FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETIDAK-TERTARIKAN MAHASISWA ETNIS TIONGHOA UNIVERSITAS KRISTEN PETRA SURABAYA DALAM MEMPELAJARI BAHASA TIONGHOA

Tjai Eric Charisty, Liejanto Wijaya

Abstract


Pada era globalisasi saat ini, pemuda Indonesia dihadapkan pada tantangan yang cukup berat. Salah satu daya saing generasi muda adalah kemampuan berbahasa Tionghoa. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi ketidak-tertarikan mahasiswa etnis Tionghoa di Universitas Kristen Petra Surabaya dalam mempelajari bahasa Tionghoa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi ketidak-tertarikan mahasiswa etnis Tionghoa Universitas Kristen Petra Surabaya terhadap bahasa Tionghoa disebabkan oleh karena bahasa Tionghoa tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, lingkungan/komunitas yang tidak mendukung penggunaan bahasa Tionghoa, bahasa Tionghoa sulit untuk dipelajari, penetrasi budaya lain seperti Barat dan Korea yang lebih dominan serta identitas sebagai orang Tionghoa-Indonesia namun kurang mengenal budaya Tionghoa sehingga tidak ada ketertarikan untuk mempelajari bahasa Tionghoa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peran keluarga, lingkungan sosial, budaya, identitas dan pendidikan dapat mempengaruhi minat mahasiswa dalam mempelajari bahasa Tionghoa.

Keywords


Faktor Ketidak-tertarikan, Mahasiswa/i Universitas Kristen Petra Surabaya, Etnis Tionghoa, Generasi Muda

Full Text:

PDF

References


Administrator (2007). Depdiknas Terjunkan 76 Guru Bahasa Mandarin. Dalam Budiarti, A. (2008). Pendayagunaan Fungsi Belahan Otak Kanan Untuk Pengajaran Bahasa Cina Yang Menyenangkan Dan Menarik Pada Remaja. Diakses 23 April 2015, dari:http://www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/127013-RB06B424pe Pendayagunaan%20fungsi-Pendahuluan.pdf.

ASEAN FREE TRADE AREA (AFTA). (2015). Diakses Agustus 21 2015. From:http://www.tarif.depkeu.go.id/Others/?hi=AFTA.

Avalokitesvari, N. N. A. N. (2014). Diskriminasi Etnis Tionghoa di Indonesia Pada Masa Orde Lama dan orde Baru. Diakses Agustus 2015, dari:http://www.tionghoa.info/diskriminasi-etnis-tionghoa-di-indonesia-pada-masa-orde-lama-dan-orde-baru/.

Caroll, J. (2012). The Importance of Learning Mandarin. Diakses 3 April 2015, dari:http://bridgelanguagecenter. com/ importance_mandarin.html.

Carola M. G. (2011). US Has Strong Desire to Learn Mandarin. By Zhao Yanrong (China Daily). Diakses 3 April 2015, dari:http://www.chinadaily.com.cn/cndy/2011-12/10/content_ 14243365.htm.

Chaer, A. (2003). Psikolinguistik:Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (1995). Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta:Rineka Cipta.

Cole, J. (2011). The mportance of families and the home environment. Diakses 21 September 2015, dari : file http://www.literacytrust.org.uk/assets/0000/7901/Research_review-importance_of_families_and_home.pdf

David W. Review of Suryadinata, L. (2007). Peranakan's Search for National Identity: Biographical Studies of Seven Indonesian Chinese. Diakses 6 Juli 2015, dari : file URL: http://www.h-net.org/reviews/showrev.php?id=13361.

Dawis, A. (2010). Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI.

Economy Watch. (2010). China Economic Watch Analysis: The World’s Largest Economy by 2035?. Diakes 13 Oktober 2015, dari:www.economywatch.com/economic-development/china.html.

Hurley. J. L. (2005). The Foundation Of Dual Language Instruction. USA. Permissions Department, 75 Arlington Street, Boston.

Ihsanullah (2012). relationship between home environment and academic performance of children at primary level. islamabad: NUML, 2012. Diakses 2 September 2015, dari : file http://www.academia.edu/5908526/The_Role_of_Home_Environment_on_Second_Language_Learning.

Iskan, D. (2010). Pelajaran dari Tiongkok.Surabaya : PT. Tempira Media Grafika, Surabaya.

Karsono O. M. F. (2014). Chinese language as an identity Viewed by the younger Chinese etnics in Indonesia. Journal of language and literature 5.(02), p. 5-10 scopus.

Nababan,P. W. J. (1993). Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Nio, J. L. (2013). Peradaban Tionghoa Selayang Pandang. Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta, CV.

Suparto. (2005). Lancar Berbahasa Mandarin. Bandung : Pustaka Internasional.

Tanaga, S. (2008). Pentingnya Bahasa Mandarin di Era Pasar Global. Diakses 23 Oktober 2015, dari:http://sylvietanaga.com/2008/02/17/pentingnya-bahasa-mandarin-di-era-pasar-global/.

Tionghoa.info (2014). “Ditengah Asmiliasi dan Multikulturalisme”. Diakses 4 Desember 2015, dari : http://www.tionghoa.info/ditengah-asimilasi-dan-multikulturalisme/.

Ulwiyah, N. (2014). “Tantangan Dunia Pendidikan Menghadapi Pasar Tunggal Asean 2015”. Diakses 23 Agustus 2015, dari : file:///C:/Users/PPB/Downloads/26-80-2-PB.pdf.

Wang Yanfang (2013). Top 10 hardest languages to learn. Diakses 30 September 2015, dari:http://en.people.cn/102774/8399031.html.

Yang, Y. (2008). Studying in China. Beijing. Wuzhou Zhuanbo Chubanshe.

Yongdra, H. (2009) “Pandangan Siswa/i Kelas Dewasa Di Xin Zhong Surabaya Terhadap Bahasa Tionghoa”. Surabaya: Universitas Kristen Petra.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.