REPRESENTASI KARAKTERISTIK MILITER PADA MASYARAKAT SIPIL DI SURABAYA

Diaz Ortega Chandra, Andrian Dektisa Hagijanto, Bernadette Dian Arini

Abstract


Masyarakat Surabaya yang berpakaian seperti karakter militer dalam aktivitas keseharian banyak ditemukan belakangan ini. Salah satunya pada komunitas airsofter Surabaya. Selain sebagai kostum bermain airsoft, ternyata karakteristik militer tersebut menjadi bentuk ‘fashion’ dan bagian dari identitas sosial yang sengaja diciptakan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana bentuk karakteristik militer yang dikenakan oleh komunitas airsofter Surabaya serta memaknai penggunaan karakteristik militer tersebut di dalam aktivitas keseharian mereka. Data didapat menggunakan cara wawancara terhadap anggota kelompok airsofter Surabaya, dan diolah menggunakan metode analisa deskriptif berdasarkan teori semiologi Barthes. Teori Fashion milik Malcolm Barnard juga dipakai untuk mendukung pemaknaan tahap konotatif dalam struktur semiologi Barthesian. Penelitian ini untuk membuktikan dugaan bahwa karakteristik militer yang digunakan anggota komunitas airsoft Surabaya sebagai pemenuhan rasa aman, dan upaya psikologis untuk meningkatkan status ekonomi

Keywords


karakteristik militer, fashion, Semiotika

Full Text:

PDF

References


Barnard, Malcolm. (2014). Fashion theory, an introduction. New York: Routledge.

Barnard, Malcolm. (2007). Fashion sebagai komunikasi. Jogjakarta: Jalasutra.

Berek, Dominikus. (n.d.). Fashion sebagai komunikasi identitas sub budaya(Kajian fenomenologis terhadap komunitas street punk semarang), 1-11. Diunduh 7 januari 2017 dari http://ejournal.undip.ac.id/index.php/interaksi/article/download/8207/6727/

Cheng-wen Huang. (2009). “A multimodal social semiotic approach to the analysis of manga: a metalanguage for sequential visual narratives”. Diunduh 1 Desember 2016 dari http://www.academia.edu/7442536/A_multimodal_social_semiotic_approach_to_the_analysis_of_manga_a_metalanguage_for_sequential_visual_narratives.

Cramer, Guy. (2013). U.S. army camouflage improvement explained. Diunduh 22 Maret 2017 darihttp://www.hyperstealth.com/camo-improvement/index.html

Cramer, Guy. (2013). U.S. army scorpion camouflage. Diunduh 22 Maret 2017 dari http://www.hyperstealth.com/scorpion/index.html

Cramer, Guy. (2013). Why not just use MARPAT?. Diunduh 22 Maret 2017 dari http://www.hyperstealth.com/coyote/

Cramer, Guy. (2013). Why US4CES?. Diunduh 22 Maret 2017 dari http://www.hyperstealth.com/US4CES-ALPHA/index.html

Cramer, Guy. (2013). Phase IV C3: camouflage, color and cost. Diunduh 22 Maret 2017 dari http://www.hyperstealth.com/c3/

Cramer, Guy. (2013). U.S. army phase IV baseline patterns, will the army have to settle with these?. Diunduh 22 Maret 2017 dari http://www.hyperstealth.com/baseline/index.html

Cramer, Guy. (2013). Night vision device comparison photos of US4CES and some of the U.S. army phase IV camouflage patterns. Diunduh 22 Maret 2017 dari http://www.hyperstealth.com/GenIII-NVG/index.html

Davis, Elizabeth. (2014). Habit de qualité: seventeenth-century french fashion prints as sources for dress history. The Journal of the Costume Society of America. Diunduh 12 Maret 2017 dari http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1179/0361211214Z.00000000028

Dektisa, Andrian. (2017). Euforia mencecap rasa militer. Seni Rupa dan Desain: Penanda Sejarah Kebangsaan. 200-220.

Febriani, Meina. (2015). Semiotika menurut pandangan Roland Barthes.Diunduh 3 Desember 2016 dari http://banggaberbahasa.blogspot.co.id/2012/09/semiotika-menurut-pandangan-roland_820.html

Hall, Stuart. (1997). Representation: cultural representations and signifying practices.Diunduh 16 juni 2017 dari https://faculty.washington.edu/pembina/all_articles/Hall1997

Hendariningrum, Retno & Susilo, E.M. (2008). Fashion dan gaya hidup: identitas dan komunikasi. Jurnal Ilmu Komunikasi, 6(2), 25-32. Diunduh 6 Januari 2017 dari , http://jurnal.upnyk.ac.id/index.php/komunikasi/article/view/38/42

Mutmainah, Arifianti. (2014). Representasi fashion dalam kelas sosial dalam film the devil wears prada dan confessions of a shopaholic. Diunduh 7 Januari 2017 darihttp://eprints.ums.ac.id/28385/21/Naskah_Publikasi.pdf

Porter, Danielle. (2010). Fashioning a discourse of elegance and politics: the historical roots of the sapeur movement, 1884-1980. (Thesis DT3.5 2010 P678). Diunduh 12 Maret 2017 dari Cornell University, New York. https://ecommons.cornell.edu/bitstream/handle/1813/17102/Porter,%20Danielle.pdf?sequence=1

Rosenberg, Robin S. & Andrea M. Letamendi. (n.d.). Expressions of fandom: findings from a psychological survey of cosplay and costume wear. Diunduh 14 Maret 2017 dari http://www.drrobinrosenberg.com/resources/Cosplay-Expressions%20of%20Fandom.pdf

Sumawijaya, Bambang. (2008). Teori-teori semiotika, sebuah pengantar. Diunduh 4 Desember 2016 dari http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/19/teori-teori-semiotika-sebuah-pengantar/

Saputra, Wira G.P. (2011). Nilai budaya, sistem nilai, dan orientasi nilai budaya. Diunduh 6 Januari 2017 darihttps://wirasaputra.wordpress.com/2011/10/13/nilai-budaya-sistem-nilai-dan-orientasi-nilai-budaya/

Setianto, Y.P. (2009). Budaya dan fashion system.Diunduh 8 Januari 2017 dari https://yearrypanji.wordpress.com/2009/01/03/budaya-dan-fashion-system/

Topor, Lauren. (2008). War & fashion: political views and how military styles influence fashion. Master’s Theses and Doctoral Dissertations. Paper 168. Diunduh 10 Maret 2017 dari Eastern Michigan University. http://commons.emich.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1167&context=theses

Van Leeuwen, Theo. (2005). Introducing social semiotic”. Diunduh 3 Desember 2016 dari https://e-edu.nbu.bg/pluginfile.php/381086/mod_resource/content/1/Lesson_14_Leeuwen_Introducing_Social_Semiotics_extract.pdf.

Weisberger, Mindy. (2016). Getting in character: psychology behind cosplay.Diunduh 20 Mei 2017 dari http://www.livescience.com/56641-why-people-cosplay.html


Refbacks

  • There are currently no refbacks.